Asal Usul Sawarna – Cerita Rakyat Desa Sawarna

admin

Updated on:

Dahulu, sekitar tahun 1800 an, sebelum gunung Krakatau meletus dan terjadi Tsunami besar. Wilhelmina Pauline Marie Van Orange-Nassau Ratu negeri Belanda (31 Agustus, 1880 M). Memimpin negeri jajahannya dengan kejam, sampai masyarakat tak pernah merasa tenang hidupnya. Beribadah selalu sembunyi-sembunyi dari pemerintah, harus selalu taat dan tunduk pada pemerintah Belanda.

Barang siapa yang tidak tunduk, maka akan dihukum dan disiksa sampai mati dengan cara dipicis (disayat badannya hidup-hidup), lalu tubuhnya akan digantung di pinggir jalan. Oleh sebab cerita tersebut, ada sebuah kampung yang diberi nama kampung Pegantungan, di daerah Cilegon–Banten yang merupakan saksi bisu kekejaman pemerintah Belanda.

Terkisah, Ki Buyut Rakam, dari Jasinga–Bogor, seorang yang alim nan ‘Abid. Ahli tarekat Qodariyah wa Naqsabandiyah. Memiliki tiga putra. Anak pertama bernama Tayu, anak kedua bernama Arsayun dan anak ketiga bernama Ahmad. Ki Buyut Rakam dikenal sebagai sosok yang tinggi ilmunya dan baik budi pekertinya. “… Ilmuna masagikaung, kalahiran kabatinan cukup tangguh, teu sombong teu angkuh, ceuk paribahasa. Teu sieun ku maung teu gimbir ku jurig.”

Di satu waktu, Ki Buyut Rakam dan keluarganya mencari sebuah gunung untuk bersembunyi, mencari kehidupan yang tenang untuk beribadah kepada Allah SWT. Mengasingkan diri, dan menghindar dari penjajah Belanda pada waktu itu. Akhirnya Ki Buyut Rakam bersama istri dan ketiga anaknya berangkat meninggalkan kampung halaman berbekal seperlunya.

Jika keadaan aman, Ki Buyut Rakam akan berjalan, jika tidak, maka Ki Buyut Rakam akan bersembunyi. Dari Jasinga-Bogor, Ki Buyut Rakam berjalan menuju pesisir laut selatan melewati Labuan, Panimbang, hingga Ujung Kulon, kemudian berjalan kembali ke arah barat hingga sampai di daerah Binuangeun.

Perjalanan yang jauh membuat mereka merasa lelah dan letih, belum menemui tempat yang tepat yang dianggap nyaman. Akhirnya Ki Buyut Rakam beristirahat “… Awak leungseuh, suku bareuh, akhirna anjeuna ngareureuh …” Setelah beristirahat, Ki Buyut Rakam beserta keluarga melanjutkan perjalanan ke arah timur hingga sampai di muara Cipamubulan. Di tempat itu Ki Buyut Rakam membuat tempat berteduh sederhana. Belum lama Ki Buyut Rakam tinggal, masih belum mendapatkan ketenangan. Setiap pagi Ki Buyut Rakam Masih bisa bolak-balik, mondar- mandir ke daerah Bayah mencari perbekalan sekadarnya guna mengisi tenaga melanjutkan perjalanan.

Setiap malam Ki Buyut Rakam masih bisa melihat cahaya deretan kapal-kapal Belanda ditengah laut yang membuat hatinya belum merasa tenang. Pada akhirnya, Ki Buyut Rakam bermuhadatsah, berunding dengan istri dan keluarganya untuk melanjutkan perjalanan ke arah timur, menyusuri pesisir, berjalan di bumi yang tak datar dan menjadikan laut sebagai ukuran dan penunjuk jalan.

Hingga sampai di kaki Gunung Kembar sebelah timur, di atas Gua Langir, sambil bertafakkur wa tadabbur, dengan hati dan kebathinannya memandang hamparan laut, bentangan samudera yang begitu indahnya tak terangkai kata-kata. Akhirnya diputuskanlah penuh keyakinan bahwa tempat itu adalah cikal bakal sebuah kampung yang subur makmur, dan akan banyak orang yang datang ke tempat itu menurut perhitungannya.

Setelah beristirahat sejenak, Ki Buyut Rakam melangkah kembali menyisir pantai hingga di penghujung Gunung Seupang. Di sana, Ki Buyut Rakam beristirahat kembali, karena belum mengambil keputusan yang sebenarnya. Padahal di tempat yang hingga sekarang disebut dengan Lebak Seupang itu penuh dengan kesuburan.
Dari airnya yang jernih, makanan laut dari ikan, udang dan lainnya mudah didapat. Namun, hati masih juga menggeliat, seakan ragu menentukan di mana tempat untuk menetap.

”… Sanajan Lebak Seupang ngagolontor caina herang, hurang nilap rayap, beunteur paday sing gurilap, lauk corencang sing culikap, baning ku weuteuh lauk tinggal nyiukan tapi tacan keletek hate pikeun cicing hirup saterusna…”

Tak bosan-bosan Ki Buyut Rakam bermunajat, melaksanakan shalat Istikharah, meminta petunjuk pada yang Maha Kuasa. Di manakah tempat yang pantas dan tepat untuk didiami. Dalam mimpinya, Allah memberikan tanda-tanda kekuasaan dan petunjuk dengan menghadirkan sebuah bulan yang terbenam di sebelah utara. Setelah menta’bir, bahwa menurut perhitungannya, harus berjalan lagi ke utara menyusuri gunung hingga sampai ke Purut Lebak Pedes.

Di tempat itu Ki Buyut Rakam mencari sumber air yang akan digunakannya untuk berwudhu, melaksanakan kewajibannya di siang hari. Tiba-tiba saja ia menemukan sumber air yang begitu deras keluar dari dalam gunung, hingga terbesit dalam hatinya, “Sugan ieu picicingeun pilembureun aing.” (Semoga inilah tempat untukku berdiam dan tepat untukku dijadikan sebuah kampung). Dengan penuh kehati-hatian, harap- harap cemas agar tak diketahui Belanda, Ki Buyut Rakam menoleh ke arah utara, dilihatnya terdapat aliran sungai yang cukup besar, tak tahu sungai apa namanya! Hingga ditelusuri oleh Ki Buyut Rakam, sungai berasal dari sebuah Goa yang di dalamnya banyak kelelawar (Gua Lalay).

Di Gua itulah Ki Buyut Rakam menetap sementara, sebelum mendirikan sebuah gubuk untuk tempatnya berteduh. Setelah mendirikan sebuah gubuk kecil sederhana, dilihatnya ke arah bukit banyak pohon tangkil (Melinjo) yang lebat buahnya dari yang mentah hingga matang sudah tersedia. Seakan-akan itu sudah disiapkan oleh Sang Khalik sebagai tempat ia menetap dan mendirikan sebuah kampung.

Ki Buyut Rakam pun akhirnya yakin sepenuh hati, bahwa di sanalah tempat ia harus menetap. Dibuatlah saung yang kokoh tiangnya dengan pohon haur gareng, beratapkan daun langkap jati, dan injuk kaung jadi talinya. Tak ada lagi kekurangan yang ia rasa dalam memilih keputusan. Semakin tenanglah hatinya, semakin tenanglah melaksanakan ibadahnya. Saat itu, Ki Buyut Rakam tak pernah terlewatkan ibadahnya dan tak pernah merasa terganggu apalagi was-was menghadap Sang Pencipta.

Ketiga anak dan satu istrinya setiap hari membuat emping dan juga keceprek yang tak habis, serta tak tertampung lagi karena melimpahnya buah melinjo yang Allah sediakan di alam. Persawahan dan perkebunan, ikan-ikan seakan datang menghampiri tanpa perlu susah payah, diiringi dengan aliran air yang jernih menambah kesuburan lahan yang dikelola oleh keluarga Ki Buyut Rakam. Sehingga Ki Buyut Rakam tak sulit mendapatkan makanan, hidup tanpa kekurangan, karena sudah disediakan di alam. Kenikmatan dan kebahagiaan kala itu tak bisa terucap selain dengan kesyukuran kepada Allah SWT. Sehingga ada istilah yang mencerminkan kesuburan Sawarna kala itu,

“Ka pasir tangkil, ka darat lengkap, ka basisir tamikil, bawaning kusubur-suburna.”

Pada waktu itu bukan hal aneh bagi Ki Buyut Rakam dan keluarga melihat hal-hal tak kasat mata. Tak jarang bangsa lelembut menampakan dirinya. Ada yang menyerupakan manusia, ada yang menakut-nakuti, dan tak sedikit pula yang tunduk dan patuh pada Ki Buyut Rakam seperti kawan.

“Pada waktu harita tempatna lain cerita angker wangsit lain di kira, jurig iblis narembongan. Aya nu mangrupaken manusia, aya nu nyingsieunan, aya oge anu tunduk nu nurut ka Ki Buyut Rakam kawas babaturan, taluk tunduk ka Ki Buyut, kawantu jelma elmuan.”

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Tak diceritakan berapa tahun kala itu Ki Buyut Rakam telah menetap berapa lama. Hingga anak-anak yang dibawanya ke tempat itu masih belia, kini telah tumbuh dewasa (Tayu, Arsayun dan Ahmad).

Suatu ketika ada tokoh agama keturunan Raden dari pedalaman Bogor yang bernama Raden Embah Syaiin, memiliki istri dan dua anak. Anak pertama bernama Ratu Syuhana, dan anak yang kedua bernama Raden Muhammad Asyik. Tujuannya tak jauh seperti Ki Buyut Rakam, yaitu mencari tempat tinggal yang jauh dari keramaian dan gangguan-gangguan kompeni Belanda guna dapat beribadah dengan tenang.

Tak terasa dalam perjalanannya, tiba-tiba sudah sampai ke kaki Gunung Tangkil yang digunakan sebagai tempat tinggal oleh Ki Buyut Rakam. Dari kejauhan, Ki Buyut Raden Syaiin melihat gumpalan asap lalu disusul olehnya. Ketika baru sampai di pinggir saung, Ki Buyut Raden Syaiin bertanya terus terang kepada Ki Buyut Rakam, “Anjeun teh bangsa manusa atau bangsa iblis anu rek nipu kaula? (Apakah engkau dari bangsa manusia atau dari bangsa jin yang akan menipu saya?)”

Dengan hati bergetar, merasa keheranan, Ki Buyut Rakam pun menjawab, “Kaula geh sarua bae, arek nanya ka andika. Anjeun teh iblis atawa manusa? (Saya pun sama, ingin bertanya kepada engkau. Apakah engkau iblis atau manusia?)” Mereka akhirnya saling menyangka satu sama lain. Karena sama-sama sakti, mereka saling mengeluarkan hujjah. Dalam riwayat, dua orang tersebut saling merangkul satu sama lain bagaikan bertemu saudaranya dalam mimpi. Menemukan teman untuk silih asah, silih asih, silih asuh, titipkeun diri anu akhirna lir ibarat badan sakujur sasapait samamanis kawas gula jeung kalapa, kawas ci kopi jeung amisna. Di Kaki Gunung Tangkil samping Gua Lalay, akhirnya ada dua keluarga yang tinggal di sana. Karena tempat tersebut penuh dengan pohon jati, maka kawasan tersebut disebut dengan Lebak Jati hingga saat ini.

Selang berapa lama, datang seorang yang berasal dari Pamarayan-Serang, bernama Ki Buyut Abas, beliau telah ditinggal mati oleh istrinya dan meninggalkan dua anak. Anak pertama berumur tiga tahun dan yang kedua berumur satu tahun lebih. Ki Buyut Abas adalah keturunan dari Tubagus Buang (masih keturunan Sultan Banten yang berontak terhadap VOC).

Ki Buyut Abas memiliki dua istri, dan tentu saja istri kedua Ki Buyut Abas lebih muda dari istri pertamanya. Barang tentu sifat ibu tiri pasti berbeda dari ibu kandung, meski tidak semua ibu tiri seperti itu. Istri keduanya ini memiliki sifat yang kejam terhadap anak-anak Ki Buyut Abas. Ketika tidak ada yang dipermasalahkan pun ia suka membuat masalah, apalagi ada suatu yang membuatnya kesal. Istri Ki Buyut Abas sering mengadu domba antara anak dan ayahnya.

Konon katanya, Istri Ki Buyut Abas kesal kepadanya. Ketika Ki Buyut Abas sedang keluar, istrinya merebus anak Ki Buyut Abas di dalam dandang besar. Kemudian setelah mati, sisa-sisa tubuh itu dimasukan kedalam tempat penutup makanan besar (Handadulang Pangakeulan). Hingga ketika Ki Buyut Abas datang dari pekerjaannya. Seperti biasa ia akan menanyakan anaknya kepada sang istri. Namun sesampainya di rumah, ia tidak menemukan siapapun kecuali Alsah anak perempuannya yang berumur tiga tahun. Ternyata istri Ki Buyut Abas pulang ke rumah ibunya. Ki Buyut Abas mengira bahwa anaknya sedang dibawa bermain oleh ibunya. Dalam keadaan lapar, akhirnya ia mencari makanan ke dapur. Biasanya makanan yang akan disajikan selalu ditutup menggunakan Dulang.

Namun betapa kagetnya ia ketika membuka Dulang tersebut, anaknya yang laki-laki ada di dalamnya dalam keadaan mati serta badannya melepuh. Ki Buyut Abas dibuat ternganga atas apa yang dilihatnya, matanya membola, mulutnya terkatup rapat, ia diam membisu, kehilangan kata- kata, tangannya terkepal, amarah dan rasa sesak bercampur aduk menjadi satu yang sedang ia usahakan agar tidak lepas kendali. Ahh, orang tua mana pula yang tidak murka dan tersayat hatinya menyaksikan anak kesayangannya dalam keadaan mengerikan seperti itu?

Dalam keadaan hati yang tersayat dan amarah yang menggebu, ia tidak lupa memohon pertolongan kepada Yang Maha Agung untuk dijaga hawa nafsunya. Dengan istighfar, sholawat serta zikir tiada henti, akhirnya Ki Buyut Abas berwudhu untuk meredakan amarah yang membara. Tanpa pikir panjang, Ki Buyut Abas meninggalkan anaknya yang sudah mati serta menggendong anak perempuannya. Ia berjalan meninggalkan rumah untuk meredakan amarah. Dalam perjalanannya, ia menahan kesabaran sambil mengingat akan qodho dan qadar dari Tuhan. Baginya, sudah merupakan bagian dari takdir bahwa anak laki-laki yang ia miliki harus meninggal dalam keadaan mengenaskan.

Minggu berganti bulan, Ki Buyut Abas berjalan tanpa tujuan. Ia berjalan menyusuri pinggir laut selatan hingga sampailah ke Muara Ci Pamubulan, Daerah Bayah. Seperti yang dilakukan Ki Buyut Rakam dahulu, dalam hati ia berdoa semoga masih ada perkampungan yang tak jauh dari tempat itu. Di pohon tersebut, banyak sekali pohon kiara, monyet bergelantungan di atas pohon, suara burung berkicauan bersahutan satu sama lain, sedangkan Ki Buyut Abas masih tetap dalam posisi menggendong anaknya tanpa rasa takut berada di hutan.

Suasana hutan tersebut menjernihkan pikirannya, layaknya ada yang menemani dan menunjukan arah jalan, hingga ia sampai ke gunung yang paling ujung. Di sana ia melihat lahan yang sangat laus. Sebelah timur gunung, Barat gunung, sedangkan ke arah selatan ada hamparan lautan.

Dalam pikirannya, ia bertanya “Aya keneh lembur atawa teu aya nya? Mugi-mugi gusti sing panggih jeung pakampungan (Masih ada kampung atau tidak ya? Ya tuhan, semoga bertemu dengan perkampungan.)” Kemudian ia melanjutkan perjalannanya hingga datang ke muara. Menelusuri aliran air dan mengikuti lika- likunya hingga sampailah ia ke kaki gunung yang ditempati oleh dua keluarga, Ki Buyut Rakam dan Ki Buyut Syaiin. Melihat ada asap yang menggumpal seperti disebabkan oleh kayu yang dibakar, Ki Buyut Abas langsung mendekati asal asap tersebut. Tak jauh dari sana, ia melihat dua

saung yang sedang diisi oleh segerombolan orang, dua laki-laki dewasa yang dikelilingi oleh anak- anak. Ia pun mendekat ke arah mereka lalu mengucapkan salam. Dengan senang hati, mereka menjawab salam Ki Buyut Abas. Layaknya tamu, Ki Buyut Abas dijamu dengan sangat baik oleh kedua keluarga tersebut.

Ki Buyut Rakam dan Ki Buyut Syaiin adalah manusia yang penuh dengan ilmu serta kaya akan pengalaman, budi pekerti yang luhur, ramah, tidak melihat tamu ataupun bukan. Mereka begitu memuliakan Ki Buyut Abas dengan apa yang mereka mampu. Tanpa bertanya tujuan Ki Buyut Abas, di rumah tersebut disiapkan peralatan sholat serta bertanya apakah Ki Buyut Abas sudah melaksanakan shalat ashar. Mengetahui Ki Buyut Abas belum melaksanakan kewajibannya, ia mempersilakan Ki Buyut Abas untuk melaksanakan sholat ashar. Dengan segala kebutuhan dan peralatan shalat yang sudah disiapkan.

Melihat dari cara Ki Buyut Abas melaksanakan sholat, Ki Buyut Rakam dan Ki Buyut Syaiin yakin bahwasanya Ki Buyut Abas bukanlah orang biasa. Melainkan seorang ‘Alim, seorang Kiyai yang dalam ilmunya.

“… Iyeu teh Kiyai, takbiratul ihramna tartib pisan, sujud sareng rukukna pas pisan …”

Anak Ki Buyut Abas pun diperlakukan sedemikian rupa, diberikan kasih sayang selayaknya anak kandung. Diciumnya, dimandikannya, disuapinya, bahkan dipakaikan baju oleh ibu pribumi. Terpancar pula dari wajah anak Ki Buyut Abas kebahagiaan yang tak terkira, seperti bukan baru bertemu kemarin, tapi seperti diperlakukan oleh ibu kandung sendiri. Bahkan segala kebutuhanya didahulukan.

Tak terasa hari mulai petang, Ki Buyut Abas pun melaksanakan Shalat maghrib bersama dengan tuan rumah, lanjut berwirid hingga menjelang Iisya. Setelah shalat isya, barulah Ki Buyut Rakam menjamu Ki Buyut Abas. Dan tak lupa pula anak-anak Ki Buyut Rakam ikut makan bersama, disusul Raden Syaiin. Begitu nikmat makan malam pada saat itu, tak ada rasa canggung dalam hati Ki Buyut Abas, seperti di rumah sendiri. Setelah makan bersama dibarengi dengan obrolan ringan, Ki Buyut Abas disuguhi goreng emping dan pisang ambon sebagai pencuci mulut.

Ketika obrolan mulai longgar, barulah Ki Buyut Rakam yang ditemani oleh Raden Syaiin dan putra-putranya; Tayu, Arsayun dan Ahmad, tak lupa pula Raden Muhammad Asyik ikut duduk menemani sang ayah, Raden Syaiin, membuka pembicara.

“Hapunten pisan, salira teh saha tea? Ma’lum tos lami teu pendak, sareng pribados teh nu ti mana tea? Sareng terang pribados aya didieu? Sumangga, wakca balaka ulah asa-asa, urang mah makhluk manusa, kakenaan sifat lalai, teu sae mun teu silih ma’lum, silih hampura, silih pika asih pika nyaah, ibarat badan sakujur, upami hulu tuur ka bentur, hulu angeun ngiring seu-eul, panon anu nyeungceurikan, tandaning ngiring prihatin. Sawangsulna upami kabingahan, mancing ngaheurap dina cai, sanes bae ngan wungkul hate nu bungah, tapi beuteung geh sok ngiring seubeuh, letah tikoro ngarasa ni’matna kenging kabingahan. Mangga dadarkeun, saurkeun, ulah bade ragu- ragu ka pribados …”

Tak disangka oleh Ki Buyut Abas kebaikan-kebaikan tuan rumah, Ki Buyut Rakam. Tutur katanya lembut, baik, seperti Kresna (tokoh pewayangan dalam agama Hindu, dewa kasih sayang dan cinta). Akhirnya membuat Ki Buyut Abas menceritakan kisah hidup yang telah ia lalui penuh ujian dan duka, sambil mengusap rambut putrinya Nyi Alsah yang sudah tertidur dalam pangkuannya. Tak terlewat sedikitpun diceritakan oleh Ki Buyut Abas kepada tuan rumah. Ki Buyut Rakam dan Ki Buyut Syaiin yang memiliki hati lembut dan penuh kasih sayang, tersayat hatinya hingga meneteskan air mata. Digendongnya Nyi Alsah anak Ki Buyut Abas oleh istri Ki Buyut Rakam, dibawanya kedalam dibelainya hingga tertidur pulas. Ibu mana yang tak sakit hatinya, jika tahu anak yang disayanginya dibunuh begitu kejinya.

Singkat kata singkat cerita, sudah ada tiga leluhur di Sawarna. Dalam diri mereka tak ada yang merasa dirinya tinggi, atau lebih tua. Ketiga leluhur itu saling bahu membahu, hidup dalam balutan kebahagiaan Ilahi. Saling asah, saling asih, saling asuh. Anak-anaknya pun sudah beranjak dewasa dengan didikan ilmu Agama yang kuat dari para orang tuanya, sebagai fondasi hidup agar dapat membedakan yang Haq dan yang Bathil. Aqidah dan Akhlak yang diutamakan kepada para anak-anak penerusnya.

Tayu, anak pertama Ki Buyut Rakam disekolahkan di pesantren yang berada di daerah utara kampung Cikadu Citarik, hingga memiliki istri orang Cikadu, bahkan hingga bahagia dan meninggal di sana. Anak kedua bernama Ki Arsayun. Pernikahan pertamanya dengan orang Panggarangan, yang kedua dengan orang Cipurun, yang ketiga dengan orang Suwakan, dan yang terakhir dengan orang Cikelat Ganesa. Ki Arsayun memiliki dua anak laki-laki yang bernama Saleh dan Yusuf.

Keahlian Ki Arsayun ialah ia mahir dalam membaca Riwayat Tuan Syekh Abdul Qodir Jaelani serta selalu dipanggil ke setiap kampung ketika ada acara membuka lahan persawahan. Ketika ia pindah dan menetap di Cilograng, ia dipilih menjadi kepala desa di sana dalam kurun waktu yang lama. Sedangkan putra ketiga Ki Buyut Rakam yang bernama Ki Ahmad dinikahkan dengan putri Ki Buyut Abas yang bernama Nyi Alsah. Dari pernikahannya, ia dikaruniai empat orang anak. Empat anak tersebut bernama Saodah, Harun, Ibrahim dan Ismail. Nyi Saodah dinikahkan dengan putra Raden Syaiin yang bernama Moh. Asyik. Sedangkan Nyi Suhana yang merupakan anak perempuan pertama Ki Raden Syaiin dinikahkan dengan anak kokolot buhun Ci Carucub yang bernama Ki Ancakelana anaknya Ki Buyut Sakman. Mereka memiliki dua anak yang bernama Khodijah dan Mimi.

Ketika melihat sejarah ke belakang, Ki Buyut Rakam, Ki Buyut Embah Rd. Syaiin, serta Ki Buyut Abas yang berasal dari Pamarayan, yang disebut dengan tokoh terkemuka yang pertama membuka lahan di Kaki Gunung Tangkil, Lebak Jati, terdengar berita ke setiap kampung mana pun hingga banyak orang yang berdatangan ke sana.

Mereka datang ke sana dengan berbagai tujuan berbeda. Ada yang bertujuan untuk mencari tempat tinggal, dagang dari hasil pertanian yang mereka garap, menyembunyikan diri dari terlilitnya hutang, sekadar menjadi buruh, serta mencari ketenangan karena dikejar oleh kesalahannya sendiri. Karena itu, sampai sekarang Sawarna hampir bisa disebut kampung persembunyian orang-orang yang memiliki masalah di kampung asalnya.

Akhirnya tiga tokoh masyarakat membuat aturan untuk kepentingan bersama agar terjaga keamananannya, penuh dengan kesuburan dan kemakmuran, saling tolong menolong, saling menjaga satu sama lain, memiliki tujuan yang sama, ramah kepada pendatang, tidak iri dengki, serta menyatukan perbedaan pendapat supaya menjadi tolok ukur kehidupan untuk anak dan cucu di masa yang akan datang.

Berawal dari sana, akhirnya salah satu di antara mereka mengusulkan untuk mengumpulkan biji-bijian sejumlah yang mereka punya. Ada yang membawa siki kacang, siki jaat, siki roay, siki hiris, jagong, suuk, benguk kacang parasman, teras digodog di tempat sarupa ngagableg jadi sawarna sarupa. Akhirnya Ki Buyut Rakam bertanya kepada semua yang hadir, “Mana biji-bijian dari kacang yang kalian bawa?” Tak ada seorang pun yang menjawab karena biji-bijian yang mereka bawa sudah menyatu dan tidak berbentuk seperti asalnya.

Akhirnya Ki Buyut Rakam melanjutkan pembicaraannya, “Inilah dalil yang harus kita gunakan bersama, kita harus seperti ini supaya menjadi contoh bagi anak cucu kita di masa depan. Harus serupa, satu warna, satu kepala dan satu tujuan. Oleh karena itu, kita ganti dan tambahkan nama daerah ini dengan nama Sawarna Lebak Jati. Termasuk sungai yang ada di bagian Utara sebut saja dengan Ci Sawarna. Hingga saat ini terkenalah Walungan Ci Sawarna itu.”

Kesimpulannya, jika kita menelaah apa yang dikatakan dalam siloka atau babandingan, InsyaAllah anak cucu di masa datang tidak akan melarat hidupnya, di mana pun ia tinggal akan mendapatkan kemuliaan dan penghormatan, hidupnya pasti berjaya. Begitupun dengan pendatang yang tidak menghinakan pribumi serta patuh pada aturan yang ada, maka ia akan mendapatkan kemuliaan dalam hidupnya.

Selesainya upacara pengukuhan perkampungan, Ki Buyut Rakam membuat Tukuh lembur tolak bala tukuh gowong namanya. Sebelah barat dikubur di Kaki Gunung Leutik, Tanjakan Cariang. Sedangkan sebelah Timur dari sebelah Pasir Salam. Begitulah cerita orang tua zaman dahulu yang saya terima. Mudah-mudahan silsilah asal usul Sawarna jilid pertama jadi catatan kajian keturunan Ki Buyut Rakam. Aamiin …

Penulis : Izkiatunnabily, lahir di Pandeglang 16 Desember 2000 adalah mahasiswa Universitas Setia Budhi Rangkasbitung POKDIS Bayah, Program Study Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sekaligus guru pengabdian di Pondok Pesantren Daar El-Mafaiz, Cihara, Lebak–Banten.

Tinggalkan komentar

Skip to content