Nyai Sumalintang Cantik seantero Lebak Selatan

Sering kita temui banyak kisah-kisah legenda, dongeng-dongeng. Mulai dari Nabi Adam AS yang terkena bujuk rayu Iblis untuk memenuhi keinginan Siti Hawa memakan buah khuldi, Nabi Yusuf yang diuji dengan  Siti  Zulaikha,  Qais  bin  Mulawwah  atau Qais si Majnun yang tergila-gila kepada Laila, si Kabayan yang dibutakan oleh Nyi Iteung, Malin Kundang yang durhaka pada ibunya karena bujuk rayu Istrinya, Sangkuriang yang tergoda Dayang Sumbi dan masih banyak lagi.

Jika anda tahu Sawarna, belum tentu anda tahu yang namanya pantai Cipamadangan karena memang belum diresmikan. Di   pantai Cipamadangan ini ada gua bawah laut yang cukup dalam, membentuk sebuah aliran air yang sering disebut  dengan Alor.  Konon  katanya  dulu  ada perempuan cantik jelita yang dibuang di sana.

Nyai Sumalintang namanya, mashur seantero Lebak Selatan karena kecantikannya yang tiada  tara.  Saking  cantiknya,  air  kopi  yang  ia minum terlihat di tenggorokannya. Hingga membuat orang tuanya bingung karena saking banyak   lelaki   sakti   mandraguna   yang   datang untuk meminangnya. Tapi di balik itu ternyata Nyai Sumalintang sudah memiliki pujaan hati. Seorang lelaki biasa yang tak mashur namanya dan tidak banyak dikenal orang. Lelaki pujaan Nyai Sumalintang tidak seperti lelaki lain mayoritas datang dari Saudagar Kaya, pendekar hebat hingga pejabat, menawarkan kehidupan mewah dan mentereng dan siap pasang badan demi melakukan apapun untuk Nyai Sumalintang.

Nyai Sumalintang

Hingga suatu ketika karena terlampau bingung,  terbesit  dalam  pikiran  orang  tuanya untuk mengadakan sayembara.

Geus  lah  lieur  aing,  ku  lobana  lalaki  nu datang ka imah jeung ngalamar anak aing si Sumalintang. Ti kiwari saha-saha nu ngaku sakti geura tunjukeun. Adu kasaktian dararia kabehan. Saha anu bisa bertahan eta nu bakal jadi salaki si Sumalintang.

Awalnya Sumalintang menolak sayembara ini karena ia telah memiliki kekasih yang begitu dicintainya. Namun, orang tuanya tidak merestui hanya karena kekasih Sumalintang bukan dari kalangan orang berada. Jika ia bersikeras tidak menuruti keinginan orang tuanya, mereka mengancam  akan  membunuh  sang  kekasih. Dengan segala rayuan maut Sumalintang, ia membujuk ibu dan ayahnya untuk memberikan restu, tapi yang ia dapat hanyalah bentakan, penolakan dan amarah.

Jadi  anak  teh  sing  nurut  kana  kahayang kolot! Lamun keukeuh hayang ka si Bagya bae, ges titah iluan sayembara sina adil. Buktiken ari emang bener-bener bogoh ka maneh!

Dengan perasaan sedih, Sumalintang menemui sang kekasih untuk memberitahu hal tersebut. Di tepi pantai Cipamadangan, mereka berdua duduk berdampingan sambil menikmati deburan ombak yang menyapa karang. Beberapa saat mereka terdiam sampai akhirnya Sumalintang membuka suara dan menyatakan maksud dan tujuan pertemuannya saat itu.

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang, banyak pemuda dari berbagai daerah di Lebak Selatan yang datang untuk mengikuti sayembara yang diadakan oleh orang tua dari Nyai Sumalintang, demi mendapatkan sang pujaan hati Nyai Sumalintang. Tak terkecuali kekasihnya yang ikut dalam sayembara tersebut. Nahasnya kekasih dari Nyai Sumalintang tewas, dikalahkan oleh pendekar dari daerah lain. Kabar itupun berembus pada telinga Nyai Sumalintang, hingga membuatnya  lemas  tak  berdaya,  meratapi kepergian sang kekasih yang gugur demi memperjuangkan cintanya.

Berhari-hari    semenjak    sayembara    itu diadakan, masih belum ada pendekar atau siapapun yang dapat memenangkan sayembara tersebut. Hingga suatu ketika salah seorang lelaki yang mengikuti sayembara tersebut memiliki usul yang disampaikan pada pendekar lain yang mengikuti sayembara tersebut untuk bersama-sama membunuh   Nyai   Sumalintang,   demi   menjaga harkat  dan  martabat  seorang  lelaki  dan  sebagai seorang pendekar, yang memilki ilmu kanuragan dan berbagai kesaktian.

Akhirnya,  para  lelaki  dan  pendekar  yang tersisa berunding demi mencapai mufakat, bagaimana  cara  membunuh  Nyai  Sumalintang. Ada yang mengusulkan digantung, dibakar, dan dikubur hidup-hidup. Para pendekarpun kebingungan bagaimana cara membunuh Nyai Sumalintang, sehari semalam para pendekar memikirkkan   hal   itu.   Hingga   pada   akhirnya terbesit dalam pikiran salah seorang lelaki untuk melemparkan Nyai Sumalintang ke sebuah Alor yang ada di tepian pantai, yang berada di pantai Cipamadangan.

Malam penculikan pun akhirnya terjadi, sangat mudah bagi para pendekar dengan berbagai ilmu   kanuragan   yang   mereka   miliki,   apalagi bekerja sama menculik Nyai Sumalintang.  Tanpa diketahui warga dan kedua orang tua Nyai Sumalintang. Dilemparkanlah Nyai Sumalintang hidup-hidup ke dalam sebuah Alor yang cukup besar  dan  dalam  hingga  Nyai  Sumalintang  pun mati dihantam oleh ombak ganas pantai selatan.

Hingga sekarang, mitos yang beredar, di pantai Cipamadangan sesekali masih terdengar suara tangisan. Diduga bahwasanya itu adalah suara tangisan dari Nyai Sumalintang yang mati dilemparkan ke sebuah Alor. Maka dinamakanlah alor tersebut dengan nama Alor Sumalintang, diambil dari nama Nyai Sumalintang.

Nyai  Sumalintang  pun mati

Pesan  dari  kisah  ini  ialah,  bahwasanya wanita  adalah  salah  satu  fitnah  terbesar  yang tuhan ciptakan di muka bumi bagi seorang lelaki. Banyak kaum-kaum terdahulu yang celaka, hancur, dan   jatuh   dalam   kebinasaan   karena   seorang wanita.   Banyak   lelaki   hebat,   gagah   perkasa, tumbang di bawah kaki wanita. Karena dibutakan oleh kecantikan, keindahan dan kenikmatan yang dihadirkan oleh seorang wanita.

Itulah  salah  satu  fakta  yang  harus  kita terima, tanpa mengesampingan kelebihan dan keutamaan dari makhluk yang tuhan ciptakan bernama wanita. Karena pada hakikatnya, cintalah yang   membuat   semua   itu   buta.   Menjadikan seorang lelaki lebih biadab daripada hewan. Rela menumpahkan darah, membunuh satu sama lain demi seorang perempuan. Seyogyanya kita tetap harus mencintai, menghormati dan menjaga seorang  wanita  dengan  semestinya,  tanpa berlebih-lebihan. Jangan sampai seorang lelaki jatuh pada tipu daya seorang wanita yang menjerumuskan.

Penulis Izkiatunnabily, Refy Handayani,  Reni Nurhidayani – mahasiswa Universitas Setia Budhi Rangkasbitung

Tinggalkan komentar

Skip to content